Baru-baru ini, para ilmuwan NASA menemukan adanya awan es metana
tak terduga pada bulan Titan, salah satu bulan yang mengorbit Saturnus.
Awan metana ini mirip dengan awan yang ditemukan diwilayah kutub bumi.
Penemuan awan dicitrakan satelit NASA Cassini, dimana awan Titan
merupakan bagian dari kondensasi dingin yang suhunya lebih dari kutub
utara Titan.
Selama delapan tahun setelah ditemukannya misteri atmosfer Titan,
ilmuwan telah menentukan bahwa bulan Saturnus yang satu ini mengandung
es metana, menghasilkan awan lebih padat daripada es metana yang
sebelumnya diidentifikasi. Menurut Carrie Anderson, ilmuwan Cassini-NASA
Goddard Space Flight Center, bahwa awan metana yang terbentuk
diketinggian Titan merupakan suatu hal yang baru, tak ada yang mengira
bahwa ini pernah terjadi sebelumnya. Hasil penelitian ini dipublikasikan
secara online dalam jurnal Icarus, yang bekerjasama dengan
Cassini-Huygens NASA, European Space Agency dan Badan Antariksa Italia.
Terbentuknya Awan Es Bulan Titan
Awan es metana berada di troposfer, lapisan terendah atmosfer
bulan Titan. Seperti halnya hujan dan awan salju di Bumi, awan terbentuk
melalui siklus penguapan dan kondensasi dengan uap yang naik dari
permukaan berhadapan dengan temperatur yang lebih dingin dan jatuh
kembali sebagai hujan. Tetapi pengecualian terjadi di bulan Titan,
dimana uap adalah metana, bukan air.
Awan Titan teridentifikasi setelah mengalami proses di stratosfer,
lapisan atas troposfer. Seperti Bumi yang memiliki awan didaerah polar
stratosfir yang biasanya terbentuk di atas Kutub Utara dan Kutub Selatan
antara 15 sampai 25 kilometer. Awan langka ini tidak terbentuk hingga
suhu menurun sampai minus 78 derajat Celsius. Awan stratosfer lain juga
telah diidentifikasi dan termasuk sangat tipis, diantaranya awan difus
etana, dimana zat kimia yang terbentuk setelah metana terpecah.
Awan halus juga terbentuk di bulan Titan yang terbuat dari
Cyanoacetylene dan Hidrogen sianida terbentuk dari reaksi sampingan
metana dengan molekul nitrogen. Tapi awan metana dianggap tidak mungkin
berada di stratosfer Titan, karena perangkap troposfer sebagian besar
mengalami kelembaban, dimana awan stratosfer membutuhkan suhu dingin
yang lebih ekstrim. Bahkan suhu stratosfer minus 203 derajat Celsius
bisa diamati melalui satelit Cassini di kutub selatan, sepertinya suhu
tidak cukup dingin yang memungkinkan metana mengembun menjadi es.
Menurut Anderson dan Robert Samuelson, suhu stratosfer di wilayah
lintang bulan Titan tidak lebih rendah. Data Cassini menunjukkan bahwa
awan bersuhu tinggi berada didekat kutub utara yang jauh lebih dingin
daripada sebelah selatan. Perbedaan suhu sekitar minus 12 derajat
Celcius dan dianggap lebih dari cukup untuk menghasilkan es metana.
Adapaun faktor lain yang mendukung keberadaan metana, melalui pengamatan
awal sistem awan sangat konsisten dengan partikel kecil yang terdiri
dari es Etana. Kemudian pengamatan mengungkap beberapa daerah menjadi
lebih padat, hal ini membuktikan bahwa wilayah itu bisa saja menciptakan
lebih dari satu es. Para ilmuwan menegaskan bahwa partikel yang lebih
besar merupakan ukuran yang tepat untuk es metana, dan bilai metana
berkisar 1,5 persen cukup untuk membentuk partikel es di kutub,
stratosfer yang lebih rendah.
Sementara itu, mekanisme pembentukan awan diketinggian ini tampaknya berbeda dari yang terjadi di troposfer. Bulan Titan
memiliki pola sirkulasi global dimana udara hangat di musim panas naik
dari permukaan dan memasuki stratosfer. Secara perlahan bergerak ke
kutub yang bermusim dingin, disini massa udara turun kembali kebawah
karena pendinginan yang memungkinkan awan metana terbentuk di
stratosfer.
Michael Flasar mengatakan, bahwa satelit Cassini terus mengumpulkan
bukti ilmiah tentang pola sirkulasi global. Identifikasi awan imetana
yang baru ditemukan merupakan indikator lain yang kuat, menegaskan
proses yang sama seperti yang terjadi di Bumi. Dalam hal ini ilmuwan
memberi gambaran yang terjadi pada awan stratosfer Bumi, dimana awan
metana terletak dekat kutub yang dingin diwilayah 65 derajat lintang
utara.
Anderson dan Samuelson memperkirakan jenis sistem awan yang disebut awan es metana
diinduksi atau disebut SIMCs, sistem ini bisa berkembang antara 98,000
hingga 164,000 kaki, atau berkisar 30 sampai 50 kilometer diatas
permukaan bulan Titan. Fenomena bulan Titan terus memukau diikuti proses
alami yang sangat mirip dengan Bumi, tetapi materi yang membentuknya
berbeda.

0 komentar on Awan Es Ditemukan Diatas Permukaan Bulan Titan :
Post a Comment